Dokter Rika & cara menghilangkan keriput di tangan

Dokter Rika & cara menghilangkan keriput di tangan: Sebuah Kisah Perjalanan Merawat Diri

Senja mulai turun di Jakarta, menyapukan cahaya keemasan ke jendela klinik dr. Rika. Di ruang konsultasi kecil yang dipenuhi aroma lembut lavender, ramai pasien keluar-masuk setiap hari. Namun sore itu, seorang ibu muda, Lestari namanya, duduk ragu di kursi tunggu, jemarinya saling menggenggam—seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Silakan masuk, Bu Lestari,” sambut dr. Rika dengan senyum ramah.

Setelah beberapa percakapan ringan, Lestari akhirnya mengangkat tangan ke atas meja. “Dok, saya malu sebenarnya… Wajah saya sudah lumayan cerah sejak rutin perawatan, tapi… tangan saya, kok makin kelihatan tua ya? Padahal saya belum tua-tua amat.”

dr. Rika tersenyum hangat dan mengamati tangan Lestari. Ada sedikit garis halus di tempurung tangan, kulitnya tampak kering dan mulai kehilangan kekenyalan. “Ibu, tangan kita itu saksi kehidupan. Sering kali terlupa, tapi mereka paling jujur memperlihatkan usia, bahkan dibandingkan wajah.”

Mereka pun berbincang panjang.

“Jadi, bagaimana caranya biar tangan nggak ‘membocorkan umur’?” tanya Lestari.

dr. Rika menuangkan secangkir teh hangat. “Biar saya ceritakan, langkah per langkah, seperti merawat kenangan indah.”

Bab 1 – Perjalanan Hand Cream & Kelembapan

Setiap malam, ketika Lestari sudah menidurkan putrinya, ia mulai membiasakan diri mengoleskan hand cream. Di rak kamar mandi, kini bersanding krim dengan label ‘hyaluronic acid’ dan ‘shea butter’. Awalnya terasa merepotkan, sampai suatu hari Lestari menyadari—tangannya mulai terasa lebih halus, sembari menidurkan putrinya, jari-jarinya mengusap pipi kecil itu tanpa rasa kasar.

“Bayangkan tangan Ibu seperti akar pohon—kalau rajin ‘disirami’ kelembapan, ia akan kuat dan indah,” ujar dr. Rika suatu sore.

Bab 2 – Matahari, Musuh Tak Terlihat

Musim panas di Jakarta memang indah, tapi sinar UV adalah musuh kulit, terutama bagi tangan yang sering lupa mendapat perlindungan. “Jangan takut lengket atau repot. Sunscreen bukan hanya untuk wajah,” pesan dr. Rika. Dengan penuh keyakinan, Lestari mulai membiasakan diri mengoleskan sunscreen ke punggung tangan setiap pagi sebelum mengantar anak sekolah. Lama-lama, ritual ini menjadi bagian kecil dari rasa syukurnya pada tubuh sendiri.

Bab 3 – Eksfoliasi: Membuka Lembaran Baru

Lestari teringat nasihat dr. Rika—eksfoliasi seminggu sekali dengan scrub lembut, seperti gula dan minyak zaitun yang selalu tersedia di dapur. Setiap akhir pekan, ketika hujan turun bermalasan, ia meracik scrub sendiri. Saat sel-sel kulit mati luruh, Lestari merasa, ada yang terangkat tak hanya dari kulit, tapi juga beban pikirannya.

Bab 4 – Nutrisi & Kisah dari Dalam

Makan siang kini lebih penuh warna—jeruk, tomat, dan ikan masuk rutin ke piring keluarga. Dr. Rika berkata, “Kulit yang sehat dimulai dari pilihan makanan.” Setiap meneguk air putih, Lestari merasa lebih segar. Ternyata benar, perlahan kulit tangan menjadi lebih kenyal, bahkan putrinya senang menggenggam tangan mama setiap malam.

Bab 5 – Melampaui Permukaan: Perawatan Klinik

Suatu hari, Lestari merasa ingin hasil lebih nyata. Ia kembali ke klinik dr. Rika, berdiskusi santai tentang treatment seperti microneedling atau laser. Dr. Rika menjelaskan dengan sabar, “Setiap prosedur ada prosesnya, tidak instan. Tapi jika dilakukan dengan cinta, hasilnya akan alami dan awet muda.” Lestari memutuskan mencoba microneedling. Hasilnya, tangan jadi makin mulus, namun yang terasa lebih dalam: rasa percaya diri yang perlahan tumbuh.

Epilog – Sentuhan yang Menyembuhkan

Bulan-bulan berlalu, perubahan di tangan Lestari semakin nyata. Tidak hanya keriput yang mulai memudar, tapi juga bagaimana ia memandang proses penuaan. Kini setiap memakai hand cream atau sunscreen, ia tersenyum pada dirinya sendiri di cermin.

Suatu malam, ketika mengantar anaknya tidur, Lestari berkata pelan, “Tangan Ibu sudah lembut lagi ya, sayang?” Putrinya mengangguk, menggenggam jari ibunya dengan hangat.

dr. Rika selalu berkata, “Merawat diri itu bukti cinta—pada tubuh, pada hidup. Tangan yang terawat bukan hanya soal penampilan, tapi juga perjalanan menerima, mencintai, dan berdamai dengan waktu.”

Jangan menunggu perubahan datang dari luar: mulai dari hal sederhana. Rawat tanganmu, rawat kisah hidupmu. Karena setiap keriput adalah bukti kasih, dan setiap tangan punya cerita cinta yang ingin dikenang.

Jika kamu ingin tahu lebih lanjut, dr. Rika selalu siap mendengarkan cerita dan membantu merancang perawatan terbaik—karena tanganmu berhak untuk tetap sehat dan indah, kapan pun usiamu.

Leave A Comment